182. Hubungan Antara Personal Hygiene dan Kepadatan Hunian Dengan Kejadian Skabies Di Rutan Kelas 1 Makassar

Penulis :

dr. Ifani Devi Tuladani, S.Ked.

Harga : Rp. 95.000


Jumlah Halaman : 72
Penerbit : Chakti Pustaka Indonesia
Tanggal Terbit : 2025
Berat : 0.35 kg
ISBN :XXXX-XXXX-XXXX
Panjang : 23.0 cm
Lebar : 15.5 cm
Bahasa Indonesia


ISBN : 000-000-00000

Editor :
Gugu Alam, S.Tr. Pas, MH.

Desain Sampul dan Tata Letak

Tim Chakti Pustaka Indonesia

Penerbit :

Chakti Pustaka Indonesia

Redaksi :

PT. Chakti Pustaka Indonesia

Jl Ir Sutami Ruko Villa Mutiara Indah

E-Mail : info@chaktipustaka.com
Website : www.chaktipustaka.com

Sinopsis Buku


Dalam dunia pemasyarakatan, kepadatan hunian merupakan tantangan yang tak terelakkan. Ruang terbatas yang dihuni oleh banyak individu dalam waktu lama sering kali menjadi lahan subur bagi penyebaran penyakit menular, terutama penyakit kulit seperti skabies. Skabies, yang ditandai dengan rasa gatal hebat dan ruam akibat infestasi tungau, lazimnya menyebar cepat di lingkungan tertutup dengan interaksi fisik yang intens dan kebersihan yang terbatas. Namun, Rutan Kelas I Makassar menunjukkan sebuah pengecualian yang menarik dan patut diapresiasi. Meski memiliki tingkat kepadatan hunian yang tinggi, tidak ditemukan kasus skabies yang signifikan. Fenomena ini bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan buah dari sistem pengelolaan yang terstruktur, disiplin, dan berorientasi pada pencegahan. Terdapat tiga pilar utama yang menopang keberhasilan ini: regulasi yang ketat, pengawasan lingkungan yang menyeluruh, dan habituasi hidup bersih yang telah menjadi budaya.

Salah satu fondasi utama yang menjadikan Rutan Kelas I Makassar mampu mengendalikan potensi penyebaran skabies adalah regulasi internal yang dirancang dengan cermat. Penempatan warga binaan dilakukan secara selektif dan berbasis kondisi kesehatan. Mereka yang terindikasi terinfeksi skabies tidak digabungkan dengan warga binaan yang sehat. Bahkan, jika ditemukan kasus dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi, individu tersebut langsung diisolasi di ruang khusus yang berada di klinik Dr. Saharjo, terpisah dari kamar hunian utama. Langkah ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif, mencegah penyebaran lebih lanjut sejak dini.

Selain itu, sistem penugasan tenaga medis di Rutan Kelas I Makassar menunjukkan tingkat profesionalisme yang tinggi. Setiap perawat memiliki wilayah kerja yang spesifik, mencakup blok dan kamar hunian tertentu. Tugas mereka tidak berjalan tanpa pengawasan; laporan pelaksanaan tugas disusun secara berkala—mingguan, bulanan, dan triwulan—dan dievaluasi langsung oleh dokter serta kepala seksi pelayanan tahanan. Dengan sistem ini, deteksi dini terhadap potensi penyakit kulit dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan, menjadikan penanganan medis sebagai bagian integral dari manajemen hunian.