02. Transformasi Spasial Dan Perubahan Sosial Komunitas Lokal : Perspektif Dinamika Pembangunan Kawasan Kota Baru

Penulis

Prof. Dr. Ir. Batara Surya, M.Si.

Patmawaty Taibe, S.Psi., M.Sc. M.A., Ph.D

Editor

Sobirin, S.S., M.Si.

Desain Sampul

GaluhA.S.

Layout

Kardiana Mahmud

Penerbit :

Chakti Pustaka Indonesia

Harga : Rp. 110.000


Pembangunan Kota Makassar saat ini, tidak terlepas dari proses diskotomi kota dan desa yang sering menimbulkan gesekan-gesekan spasial, sosial, dan kultural. Penduduk desa dan wilayah sekitar Kota Makassar melakukan  mobilisasi  secara tak sadar akibat faktor daya tarik Kota Makassar sebagai kota inti dalam struktur ruang Kota Metropolitan   Mamminasata.   Proses  mobilisasi  penduduk   tersebut oleh Manuel  Castells, menyamakan  urbanisasi  sebagai modemisasi, sedangkan masyarakat modem dianggap ekuivalen dengan masyarakat kapitalisme  liberal. Pada prinsipnya  urbanisasi  yang terjadi  di Kota Makassar, akibat keinginan para urbanis untuk tujuan  meningkatkan tarafpenghidupannya yang lebih layak dari silaunya industri dan akibat modemisasi yang terjadi di Kota Makassar.

Kajian perkembangan kota, khususnya kota-kota utama di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pengaruh proses globalisasi dan kemajuan   teknologi  informasi.   Perubahan  sosial  yang  berlangsung di tingkat kemasyarakatan  menjadi  kajian  stratejik  bagi para  ilmuan sosial. Bahkan pada abad ini dapat dijadikan peluang untuk memahami kecendrungan yang mengkonfigurasikan kembali tatanan sosial. Dalam perkembangan Kota Makassar ditemukan adanya segregasi sosial berdasarkan  strata  sosial  ekonomi.  Dengan  demikian  ruang  lingkup kajian  Kota Makassar hams  diperluas  sebagai Wilayah Metropolitan Mamminasata. Perkembangan kota Makassar saat ini terkait erat dengan kebijakan dekonsentrasi planologis Makassar-Maros-Gowa-Takalar. Berkembangnya  kajian  budaya  lokal dengan konfigurasi baru  dalam berbagai aspek kehidupan komunitas antara lain gaya hidup, subkultur perkotaan,  disorganisasi  sosial,  dan  anomi.  Selain proses  urbanisasi, kemajuan teknologi membawa konsekuensi sosial terhadap kehidupan sosial budaya  khususnya  interaksi  antarindividu  yang  merubah  pola hubungan sosial.

Perkembangan pembangunan Kota Makassar akibat proses urbanisasi,  diidentifikasi telah mendorong kelompok  strata menengah ke bawah untuk  menetap di kawasan pinggiran kota meskipun masih tergantung pada kegiatan di pusat kota. Pembangunan mengakibatkan harga lahan tidak terjangkau oleh kelompok ini. Pola kepemilikan lahan mengalami perubahan  dari kepemilikan  pribadi menjadi  kepemilikan pengembang  dalam  luasan  yang  sangat besar.  Jika  dikaitkan  dengan penataan atau penyediaan sarana dan prasarana umum (jaringan jalan) bagi pemerintah kota akan menghadapi masalah tersendiri. Indikasi yang dapat ditemukan adalah tingginya konflik lahan di kawasan perkotaan Kota  Makassar  yang  cenderung  meningkat.  Sementara  itu  disadari atau tidak mobilitas penduduk ke daerah pinggiran mengondisikan perubahan pada struktur  sosial komunitas lokal. Pola urbanisasi yang terjadi berbeda dengan proses urbanisasi di negara-negara maju seperti

Amerika dan Eropa dimana lahimya teori-teori sosial. Kota-kota di Indonesia termasuk kota Makassar, mengindikasikan semakin jauh dari pusat kota semakin tidak tertata.

Isu utama, yang menjadi dasar untuk memahami proses perubahan komunitas lokal pada kawasan Metro Tajung Bunga didasari oleh pemikiran bahwa setiap kegiatan pembangunan,dalam hal ini perubahan spasial akan berpengaruh pada proses perubahan sosial masyarakat yang telah mendiami suatu kawasan kota untuk kurun waktu tertentu. Perubahan sosial komunitas lokal di kawasan Metro Tanjung Bunga di asumsikan akibat terjadinya modifikasi struktur sosial,proses sosial,  dan  pola  kultural  komunitas  sebagai  dampak  pembangunan pusat-pusat aktivitas sosial-ekonomi baru yang dikembangkan oleh kapitalisme.  Dengan  demikian  perubahan  sosial komunitas  kawasan Metro Tanjung Bunga yang dimaksud adalah perubahan pada struktur sosial, proses sosial,  dan pola kultural.

Dari  uraian   di  atas,   diasumsikan   bahwa   perubahan   moda produksi komunitas lokal sebagai sebuah realitas sosial akibat pengalihan fungsi aktivitas pusat kota Makassar ke kawasan pinggiran Metro Tanjung Bunga mengindikasikan terjadinya  perubahan  spasial, sehingga mengondisikan  perubahan  formasi  sosial dan konsekuensi• konsekuensi yang muncul dalam kehidupan komunitas lokal. Dengan demikian, yang menjadi fokus kajian dalam buku ini adalah perubahan sosial dan konsekuensi-konsekuensinya pada komunitas lokal kawasan Metro Tanjung Bunga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *