Penulis
Prof. Dr. Ir. Batara Surya, M.Si.
Patmawaty Taibe, S.Psi., M.Sc. M.A., Ph.D
Editor
Sobirin, S.S., M.Si.
Desain Sampul
GaluhA.S.
Layout
Kardiana Mahmud
Penerbit :
Chakti Pustaka Indonesia
Harga : Rp. 110.000
Pembangunan Kota Makassar saat ini, tidak terlepas dari proses diskotomi kota dan desa yang sering menimbulkan gesekan-gesekan spasial, sosial, dan kultural. Penduduk desa dan wilayah sekitar Kota Makassar melakukan mobilisasi secara tak sadar akibat faktor daya tarik Kota Makassar sebagai kota inti dalam struktur ruang Kota Metropolitan Mamminasata. Proses mobilisasi penduduk tersebut oleh Manuel Castells, menyamakan urbanisasi sebagai modemisasi, sedangkan masyarakat modem dianggap ekuivalen dengan masyarakat kapitalisme liberal. Pada prinsipnya urbanisasi yang terjadi di Kota Makassar, akibat keinginan para urbanis untuk tujuan meningkatkan tarafpenghidupannya yang lebih layak dari silaunya industri dan akibat modemisasi yang terjadi di Kota Makassar.
Kajian perkembangan kota, khususnya kota-kota utama di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pengaruh proses globalisasi dan kemajuan teknologi informasi. Perubahan sosial yang berlangsung di tingkat kemasyarakatan menjadi kajian stratejik bagi para ilmuan sosial. Bahkan pada abad ini dapat dijadikan peluang untuk memahami kecendrungan yang mengkonfigurasikan kembali tatanan sosial. Dalam perkembangan Kota Makassar ditemukan adanya segregasi sosial berdasarkan strata sosial ekonomi. Dengan demikian ruang lingkup kajian Kota Makassar hams diperluas sebagai Wilayah Metropolitan Mamminasata. Perkembangan kota Makassar saat ini terkait erat dengan kebijakan dekonsentrasi planologis Makassar-Maros-Gowa-Takalar. Berkembangnya kajian budaya lokal dengan konfigurasi baru dalam berbagai aspek kehidupan komunitas antara lain gaya hidup, subkultur perkotaan, disorganisasi sosial, dan anomi. Selain proses urbanisasi, kemajuan teknologi membawa konsekuensi sosial terhadap kehidupan sosial budaya khususnya interaksi antarindividu yang merubah pola hubungan sosial.
Perkembangan pembangunan Kota Makassar akibat proses urbanisasi, diidentifikasi telah mendorong kelompok strata menengah ke bawah untuk menetap di kawasan pinggiran kota meskipun masih tergantung pada kegiatan di pusat kota. Pembangunan mengakibatkan harga lahan tidak terjangkau oleh kelompok ini. Pola kepemilikan lahan mengalami perubahan dari kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan pengembang dalam luasan yang sangat besar. Jika dikaitkan dengan penataan atau penyediaan sarana dan prasarana umum (jaringan jalan) bagi pemerintah kota akan menghadapi masalah tersendiri. Indikasi yang dapat ditemukan adalah tingginya konflik lahan di kawasan perkotaan Kota Makassar yang cenderung meningkat. Sementara itu disadari atau tidak mobilitas penduduk ke daerah pinggiran mengondisikan perubahan pada struktur sosial komunitas lokal. Pola urbanisasi yang terjadi berbeda dengan proses urbanisasi di negara-negara maju seperti
Amerika dan Eropa dimana lahimya teori-teori sosial. Kota-kota di Indonesia termasuk kota Makassar, mengindikasikan semakin jauh dari pusat kota semakin tidak tertata.
Isu utama, yang menjadi dasar untuk memahami proses perubahan komunitas lokal pada kawasan Metro Tajung Bunga didasari oleh pemikiran bahwa setiap kegiatan pembangunan,dalam hal ini perubahan spasial akan berpengaruh pada proses perubahan sosial masyarakat yang telah mendiami suatu kawasan kota untuk kurun waktu tertentu. Perubahan sosial komunitas lokal di kawasan Metro Tanjung Bunga di asumsikan akibat terjadinya modifikasi struktur sosial,proses sosial, dan pola kultural komunitas sebagai dampak pembangunan pusat-pusat aktivitas sosial-ekonomi baru yang dikembangkan oleh kapitalisme. Dengan demikian perubahan sosial komunitas kawasan Metro Tanjung Bunga yang dimaksud adalah perubahan pada struktur sosial, proses sosial, dan pola kultural.
Dari uraian di atas, diasumsikan bahwa perubahan moda produksi komunitas lokal sebagai sebuah realitas sosial akibat pengalihan fungsi aktivitas pusat kota Makassar ke kawasan pinggiran Metro Tanjung Bunga mengindikasikan terjadinya perubahan spasial, sehingga mengondisikan perubahan formasi sosial dan konsekuensi• konsekuensi yang muncul dalam kehidupan komunitas lokal. Dengan demikian, yang menjadi fokus kajian dalam buku ini adalah perubahan sosial dan konsekuensi-konsekuensinya pada komunitas lokal kawasan Metro Tanjung Bunga.
